Pentingkah Penerapan Kurikulum 2013?
![]() |
| Sumber: gudukinformasi.com |
Pemerintah sedang
berusaha dengan keras menjalankan Kurikulum 2013 yang semakin terdengar
gaungnya. Dalam Kurikulum 2013 pembelajaran yang sebelumnya dianggap
monoton, akan dibuat semenarik mungkin sehingga siswa dengan mudah memahami
pelajaran. Dalam Kurikulum 2013 ini pula tata cara pelaksanaan pembelajaran
lebih difokuskan kepada menyimak, mengamati, menanya, mempraktek, menalar
kemudian mengkomunikasikan. Benarkah selama ini pembelajaran yang berlangsung
tidak menerapkan kelima aspek tersebut? Inilah kekurangan pemerintah dalam
menilai sejauh mana pembelajaran yang sebenarnya berlangsung.
Tidak cukup sampai di
lima titik fokus pembelajaran dalam Kurikulum 2013 yang sebenarnya sudah
dilakukan oleh sebagian besar guru. Pemerintah malah memangkas beberapa mata
pelajaran yang jika lebih ditelaah dengan mendalam, pelajaran tersebut
sama-sama memberikan efek penting pada pengetahuan siswa. Contohnya saja,
pemerintah memangkas habis pelajaran Teknolog Informasi dan Komunikasi (TIK)
padahal sebagian guru TIK sudah disertifikasi. Entah apa yang dipikirkan
penyelengara pendidikan di ranah penuh tipu daya ini, namun menghilangkan
pelajaran TIK sama saja membodohi siswa yang belum mengerti apa-apa tentang
teknologi.
Pemerintah punya
alasan kuat dalam meniadakan pelajaran TIK di Kurikulum 2013, alasan ini
mengatakan bahwa TIK sudah dirangkum dalam pembelajaran lain mengingat hampir
semua pembelajaran harus menggunakan media berbau teknologi. Dalam arti kata,
setiap guru yang mengajar harus menayangkan slideshow
di depan kelas. Untuk taraf siswa yang sangat tekun belajar pemerintah boleh
saja menerapkan pembelajaran demikian. Untuk tingkatan siswa yang kesadaran
belajar masih kurang sangatlah tidak tepat. Jika di kota besar guru tinggal
mengajar dengan klik, maka di
kampung-kampung guru harus mengajar dengan titik-titik di papan tulis. Pembelajaran
menggunakan rumus/perhitungan, untuk siswa di kampung-kampung haruslah didikte
dari mana dapat angka-angka sehingga mendapatkan hasil. Dengan slideshow? Entah bagaimana seorang guru
bisa mentransfer pengetahuan mereka. Tidak semua materi ajar bisa ditampilkan
di depan kelas dengan tayangan bagus, ditampilkan sangat baik agar guru
dianggap hebat dalam membuat media pembelajaran. Bagaimana dengan siswa yang
duduk mengkhayal di dalam kelas?
Terdapat alasan kuat
pelajaran TIK masih sangat diperlukan di tingkat kabupaten/kota. Pelajaran ini
menjadi pengantar siswa-siswi dalam memahami dan menggunakan alat berteknologi
tinggi. Jika pelajaran TIK sudah digabung dengan pelajaran lain, maka siswa
tidak ada waktu lagi untuk sekadar mengenal fungsi keyboard, bagaimana dengan dasar-dasar pengeditan dokumen di Microsoft Office Word. Di sini tidaklah
kita bicara mengenai sekolah-sekolah unggulan yang punya banyak fasilitas,
sekolah yang dibicarakan di sinilah merupakan sekolah-sekolah di kampung yang
sama sekali tidak tersentuh fasilitas memadai dalam mendukung pembelajaran.
Penggabungan pelajaran
TIK dengan pelajaran lain bukanlah berimbas pada guru semata, lebih lagi kepada
siswa-siswi yang belum bisa mengoperasikan komputer. Dengan digabungkannya
pelajaran TIK dengan pelajaran lain yang dianggap sesuai, maka siswa hanya
melihat guru mengklik ini itu di
depan kelas tanpa paham maksudnya. Padahal, jika dikronologikan lebih khusus
pembelajaran TIK harus diajarkan dengan benar agar siswa tidak tertinggal dan
mengkutak-katik teknologi informasi. Jangan pernah mengira bahwa siswa bisa
belajar sendiri komputer di rumah masing-masing, hal ini akan berlaku di kota besar
yang taraf kehidupan keluarga rata-rata tercukupi. Kehidupan di kampung
terpencil tidak akan sama, harga komputer yang tinggi bisa disetarakan dengan
biaya asap mengepul selama dua sampai tiga bulan.
Masih banyak
pelajaran-pelajaran lain yang kemudian disesuaikan dengan pelajaran tertentu. Kekacauan
yang ditimbulkan oleh pemangku kebijakan ini tidaklah menyentuh kalangan bawah.
Seakan pemerintah hanya menilai daerah tertentu dalam menentukan suatu
kebijakan. Indonesia ini sangat luas sekali, berbagai pelosok butuh pendidikan
layak dan pemerintah melupakan bahkan tidak pernah melihat bagaimana
pembelajaran berlangsung di tengah hara kehidupan yang tidak seimbang.
Banyak keluhan yang
muncul terutama tentang kekurangan guru serta fasilitas yang minim. Dan satu
hal yang menjadi warna hitam pekat, adalah kecakapan siwa dalam mencerna
penjelasan guru. Siswa di kampung sangat susah menerima pelajaran terlalu
tinggi mengingat dasar pelajaran masih kurang. Hal ini bukan karena siswa-siswi
termasuk dalam kategori bodoh, masalah ini muncul karena kurangnya perhatian
pemerintah terhadap guru di pelosok serta minat belajar siswa yang masih
tertuju pada guru. Siswa di kampung tidak terbiasa menambah jam pelajaran di
sore hari, pelajaran cukup berlangsung dari pagi sampai siang lalu pulang ke
rumah dengan segenap aktivitas.
Pelaksanaan
pembelajaran seperti yang diharapkan oleh pemerintah berlangsung mulus tidak
akan didapat di sekolah-sekolah nan jauh dari pusat kota. Jika Kurikulum 2013
dilaksanakan dengan benar sesuai kaidah yang tertulis, maka pemerintah tidak
hanya duduk diam di kursi empuk tanpa terjun langsung ke pelosok. Pemerintah
harus melihat sendiri bagaimana pembelajaran yang berlangsung di daerah-daerah
tertinggal kemudian baru bisa menyamaratakan dalam sistem pendidikan.
Bicara Kurikulum 2013
tentu akan mengarah pada pelaksanaan Ujian Nasional. Kurikulum 2013 tidaklah
sejalan dengan Ujian Nasional yang sedang diterapkan pemerintah. Berkaca pada
pembelajaran yang selama ini berlangsung di daerah-daerah, pemerintah tidak
bisa menyamakan soal antara siswa di kota besar dengan siswa di kampung. Dalam
Kurikulum 2013 pula penilaian tidak hanya angka-angka penting di kertas putih
lalu meluluskan siswa.
Mengutip Pakar
Pendidikan, Darmaningtyas “Orientasi Ujian Nasional bertolak belakang dengan
Kurikulum 2013. Konsep Ujian Nasional adalah teaching for the best (mengajar untuk ujian), sedangkan konsep
Kurikulum 2013 antara lain tentang bertanya,
mengekplorasi, maupun mempresentasi.
Pemerintah harus konsisten mau melaksanakan Kurikulum 2013 atau melaksanakan
Ujian Nasional. Kalau mau Ujian Nasional, batalkan Kurikulum 2013!”
Pemerintah tidak
tinggal diam, seperti menjawab anggapan Darmaningtyas, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan bahwa Kurikulum 2013 akan diterapkan secara
utuh di tahun 2016. Hal ini tentu sangat merugikan siswa yang sekarang ini jadi
korban pelaksanaan Ujian Nasional. Muhammad Nuh memang benar, karena sejauh ini
buku-buku kurikulum sebelumnya harus dirombak habis-habisan dan baru beberapa
buku yang sudah sesuai dengan Kurikulum 2013, di antaranya Matematika dan
Bahasa Indonesia.
Pemerintah masih terus
mengedit Kurikulum 2013 sampai tuntas menjadi sebuah kurikulum baku demi
kemajuan pendidikan. Satu perkara yang tidak bisa diterima, pemerintah seakan
abai terhadap bukti di lapangan dan protes guru terhadap pelaksanaan Ujian
Nasional. Ujian Nasional dari dulu sampai sekarang sudah tuli akan
kritikan guru serta pengamat pendidikan, dan untuk Kurikulum 2013 seakan juga
merasakan hal yang. Para pemangku kebijakan yang tidak terlibat langsung dalam
proses belajar mengajar, seenaknya saja mengubah-ubah bahkan menghilangkan
pelajaran “penting” untuk siswa. Kita tunggu saja, sejauh mana pemerintah
mengerti asa yang terus dipikul anak bangsa!
