SKRIPSI PENDEKATAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SKRIPSI PENDEKATAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, PENDEKATAN NILAI-NILAI AQIDAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM, MACAM-MACAM PENDEKATAN DALAM
ISLAM, MACAM-MACAM PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM,
PENDEKATAN
PEMBIASAAN
Secara etimologi,
pembiasaan asal katanya adalah “biasa”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
‘biasa’ adalah lazim atau umum, peperti sedia kala, sudah merupakan hal yang
tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.”[1] Dengan adanya prefiks
‘pe’ dan sufiks ‘an’ menunjukkan arti proses. Sehingga pembiasan dapat
diartikan dengan proses pembuatan sesuatu atau seseorang menjadi terbiasa.[2]
Pembiasaan merupakan
salah satu metode yang sangat penting dalam penginternalisasian nilai-nilai
aqidah. Pada siswa-siswi MAN pendekatan ini sangat penting, mereka belum
menginsafi apa yang disebut baik dan buruk karena jiwa mereka yang masih labih
dan mudah terpengaruh. Aktivitas mereka harus dibiasakan dengan tingkah laku,
keterampilan, dan pola pikir tertentu. Perbuatan mereka seringkali mendapatkan
perhatian dari berbagai pihak karena belum mendapatkan jati diri sebenarnya.
Pembiasan ini akan mendewasakan pola pikir mereka, menempatkan segala sesuatu
dengan benar, berbicara dengan sopan, mengatur waktu dengan tepat dan hal-hal
lain.[3]
Seseorang yang mempunyai
kebiasaan tertentu akan dapat melaksanakannya dengan mudah dan senang hati.
Bahkan, segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam usia muda sulit untuk
diubah dan tetap berlangsung sampai hari tua. Untuk mengubahnya sering kali
diperlukan terapi dan pengendalian diri yang serius. Pembiasaan yang dilakukan
semenjak dini, akan menumbuhkan kesadaran sebelum melakukan hal-hal yang
bertolak belakang dengan keinginan mereka di masa depan. Sebagai contoh,
menurut kajian psikologi kalau seorang anak dibiasakan mencaci maki maka ia
akan belajar mencaci.[4]
Abdurrahman
An-Nahlawi mengatakan bahwa “Islam bukanlah agama mantera-mantera dan
jampi-jampi.”[5] Segala penjelasan
ajarannya menuntut manusia untuk mengarahkan tingkah laku, insting, bahkan
hidupnya untuk merealisasikan hukum-hukum Illahi secara praktis. Praktek ini
akan sulit terlaksana manakala seseorang tidak terlatih dan terbiasa untuk
melaksanakannya.
Kebiasaan terbentuk
melalui pengulangan sesuatu yang sering dilakukan. Anak yang sering mendengar
orang tuanya mengucapkan nama Allah SWT., akan mulai mengenal nama-Nya. Hal ini
mendorong tumbuhnya jiwa keagamaan pada anak. Kedisiplinan anak dapat dilatih
dengan mematuhi peraturan yang secara berulang-ulang di lingkungan keluarga,
sekolah, dan lingkungan lainnya.
Pembiasaan yang
dilakukan sertai dengan usaha membangkitkan kesadaran atau pengertian
terus-menerus dari tingkah laku yang dibiasakan. Pembiasaan digunakan bukan
untuk memaksa anak agar melakukan sesuatu secara optimis, melainkan agar dapat
melaksanakan segala kebaikan dengan mudah tanpa merasa susah atau berat hati.[6]
Pertanggung jawaban
dari manusia atas segala amal perbutannya sesuai dengan kadar keterkaitan
perbuatan itu dengan niat akan diminta di hari akhir. Sehingga pembiasaan yang
pada awalnya bersifat mekanistis diusahakan agar menjadi kebiasaan yang
disertai kesadaran pada anak. Hal ini sangat mungkin apabila pembiasaan
dilakukan secara berangsur-angsur disertai dengan penjelasan-penjelasan dan
nasehat-nasehat, sehingga makin lama timbul pengertian dari diri mereka.[7]
Dalam pembelajaran
aqidah di MAN, berpijak dari pemahaman di atas bahwa semua berasal dari
keluarga. Guru memberikan pembiasaan kepada siswa dengan berbagai cara, di
antaranya baca doa sebelum dan sesudah belajar, baca Al-Qur’an di hari Jum’at
(terutama Surat Yassin), shalat dhuhur berjamaah, ceramah tujuh menit sesudah
shalat dhuhur, dan memperingati hari-hari besar pada tanggalnya.
Semua dilakukan agar
siswa-siswi MAN terbiasa melakukan berbagai aktivitas yang menyangkut aqidah/ibadah
jika sudah tidak di sekolah lagi. Pembiasaan ini diharapkan dilakukan sampai
mereka tidak bersekolah lagi, saat sudah kuliah, kembali ke masyarakat atau
ketika sudah berkeluarga.
PENDEKATAN
KETELADANAN
Kata Keteladanan
diambil dari kata “teladan” yang mempunyai arti perbuatan atau barang, yang
patut ditiru dan dicontoh.[8] Maka keteladanan
merupakan hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh. Dalam bahasa Arab
keteladanan diungkapkan dengan kata “uswah” dan “qudwah”. Kata “uswah”
terbentuk dari huruf-huruf : hamzah, al-sin, dan al-wawu. Secara etimologi
setiap kata bahasa arab yang terbentuk dari ketiga huruf tersebut memiliki
persaman arti yaitu pengobatan dan perbaikan.[9]
Al-Ashfahani
memberikan pendapat mengenai “al-uswah” dan “al-iswah”. Sebagaimana kata
“al-qudwah” dan “al-qidwah” berarti “Suatu keadaan ketika seorang manusia
mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, kejahatan, atau
kemurtadan”. Sedangkan Ibn Zakariya mendefinisikan bahwa, “uswah” berarti
“qudwah” yang artinya ikutan, mengikuti yang diikuti. [10]
Maka, keteladanan mempunyai makna hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh oleh
seseorang dari orang lain.
Pendidikan dengan
teladan berarti pendidikan dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku,
sifat, cara berfikir dan sebagainya. Abdullah Ulwan mengatakan “bahwa pendidik
barang kali akan merasa mudah mengkomunikasikan pesannya secara lisan.”[11]
Namun, anak akan merasa kesulitan dalam memahami pesan itu apabila ia melihat
pendidiknya tidak memberi contoh tentang pesan yang disampaikannya.
Keteladanan digunakan
untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan memberi contoh keteladanan yang
baik kepada siswa, agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mental dan
memiliki akhlak yang baik dan benar. Keteladanan memberikan konstribusi yang
sangat besar dalam pendidikan ibadah, akhlak, kesenian, dan lain-lain.
Pada MAN, melahirkan
siswa yang shaleh, guru tidak cukup hanya memberikan prinsip saja, karena yang
lebih penting bagi siswa adalah figur yang memberikan keteladanan dalam
menerapkan prinsip tersebut. Sehingga sebanyak apapun prinsip yang diberikan
tanpa disertai contoh tauladan, ia hanya akan menjadi kumpulan resep yang tidak
bermakna.
Keteladanan yang
dihadirkan oleh seorang guru akan tercermin dari tingkah laku guru tersebut.
Siswa akan meniru dan meneladani setiap perbuatan yang dilakukan oleh Guru.
Guru bisa saja memberikan contoh keteladanan tokoh-tokoh terkenal, namun kerap
kali guru lupa bahwa siswa akan memperhatikan setiap gerak-gerik Guru. Ayat
tersebut di atas sangat besar pengaruh terhadap guru untuk mengajarkan yang
diketahui dan berperilaku sesuai dengan akhlak mulia.
Dalam praktek
pendidikan, siswa cenderung meneladani pendidiknya dan ini diakui oleh hampir
semua ahli pendidikan. Hal ini juga terjadi di MAN. Dasarnya adalah secara
psikologis siswa senang meniru, tidak saja yang baik-baik yang jelek pun
ditirunya, dan secara psikologis pula manusia membutuhkan tokoh teladan dalam
hidupnya.[12] Disinilah letak
relevansi dan keterkaitan antara metode keteladanan dengan metode cerita,
artinya tidak saja hanya bisa bercerita/bicara tetapi juga harus mampu menjadi
teladan yang baik bagi siswa. Untuk lebih jelasnya perhatikan kembali Surat
Al-Ahzab ayat 21 di bawah ini.
Artinya: Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allah.
Kepribadian
Rasulullah SAW. sudah diakui dunia dari sejak Beliau memperjuangkan Islam
sampai saat ini. Kepribadian Beliau bukan hanya teladan buat suatu masa, satu
generasi, satu bangsa atau satu golongan tertentu melainkan keteladanan yang
bersifat universal/menyeluruh.[13] Keteladanan Beliau
tidak akan pernah dilupakan sepanjang masa, di mana terdapat segala nilai/norma,
sopan santun, akhlak mulia dan ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan
Hadist.
PENDEKATAN NASEHAT
Abdurrahman
An-Nahlawi mengatakan nasehat dan peringatan akan kebaikan dan kebenaran dengan
cara menyentuh kalbu dan menggugah untuk mengamalkannya. Sedangkan nasehat
sendiri sajian bahasan tentang kebenaran dan kebajikan dengan maksud mengajak
orang yang dinasehati untuk menjauhkan diri dari bahaya dan membimbingnya
kejalan yang benar.[14]
Menurut Abdullah
Nasih Ulwan, nasehat dapat membukakan mata siswa kepada hakekat sesuatu yang
mendorongnya menuju situasi luhur, dan menghiasinya dengan akhlak mulia, dan
membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.[15]
Pendekatan ini mampu menghadirkan kesadaran pada siswa-siswi MAN untuk
mengamalkan aqidah sesuai yang diajarkan. Nasehat-nasehat yang diberikan guna
untuk kebaikan mereka sendiri. Nasehat tersebut juga akan membawa kepada
keridhaan Allah SWT. dalam melakukan berbagai amal kebajikan.
MENGHINDARI
PERILAKU TERCELA
PENGERTIAN
HASUD
Hasud artinya merasa
tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan berusaha agar
kenikmatan tersebut cepat berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta merasa
senang kalau orang lain mendapat musibah.
Hasud yang terlarang;
terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain, sehingga menimbulkan kedengkian,
dll.
Hasud yang
diperbolehkan; hasud kepada orang lain dalam hal: jika seseorang diberi harta
benda kemudian dibelanjakan dijalan Allah SWT, dan jika seseorang diberi ilmu
oleh Allah kemudian diamalkannya.
SIFAT RIYA
Riya artinya
memperlihatkan perbuatan (ibadah) kepada orang lain agar disanjung atau dipuji.
Maksud lain adalah beribadah dengan niat karena Allah SWT. dan karena
ingin dilihat, disanjung atau dipuji manusia. Adapun jenis-jenis riya adalah:
Riya dalam niat; iya
ini muncul ketika mengawali suatu pekerjaan. Seseorang yang akan melakukan
ibadah berkeinginan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan manusia
Riya dalam perbuatan;
riya orang yang selalu memperlihatkan ketekunan beribadah bukan karena sedang member
contoh atau bukan diwaktu saat orang banyak melakukannya.
PENGERTIAN
ANIAYA
Aniaya artinya dzalim
yaitu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dengan demikian orang lain
diperlakukan secara tidak sesuai dengan semestinya.
Perbuatan aniaya
dapat dikelompokkan ke dalam 2 kelompok yaitu :
Aniaya pada diri
sendiri, yaitu berlaku zalim kepada diri sendiri, misalnya tidak mengurus diri
dengan baik, atau tidak melakukan perbuatan yang seharusnya diperbuat oleh diri
sendiri.
Aniaya pada orang
lain, yaitu berlaku zalim kepada orang lain baik dengan perkataan, perbuatan
dll, baik terhadap manusia, binatang, maupun tetumbuhan.
DOWNLOAD JUGA RPP
KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
