UPAYA MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN ANAK DALAM ISLAM
UPAYA MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN ANAK DALAM
ISLAM, MENUMBUHKAN
KEMANDIRIAN ANAK, KAPAN WAKTU MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN ANAK, BAGAIMANA CARA
MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN ANAK, KEMANDIRIAN ANAK PENTING,
Anak yang mandiri adalah anak yang memiliki
kepercayaan diri dan motivasi yang tinggi. Sehingga dalam setiap tingkah
lakunya tidak banyak menggantungkan diri pada orang lain, biasanya pada orang
tuanya. Anak yang kurang mandiri selalu ingin ditemani atau ditunggui oleh
orang tuanya, baik pada saat sekolah maupun pada saat bermain. Kemana-mana
harus ditemani orang tua atau saudaranya. Berbeda dengan anak yang memiliki
kemandiran, ia berani memutuskan pilihannya sendiri, tingkat kepercayaan
dirinya lebih nampak, dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman
bermain maupun orang asing yang baru dikenalnya.
Menurut Zimmerman yang dikutif oleh Tillman
dan Weiss anak yang mandiri itu adalah anak yang mempunyai kepercayaan diri dan
motivasi instrinsik yang tinggi. Zimmerman yakin bahwa kepercayaan diri dan
motivasi instrinsik tersebut merupakan kunci utama bagi kemandirian anak.
Dengan kepercayaan dirinya, anak berani tampil dan berekspresi di depan orang
banyak atau di depan umum. Penampilannya tidak terlihat malu-malu, kaku, atau
canggung,tapi ia mampu beraksi dengan wajar dan bahkan mengesankan. Sementara,
motivasi instrinsik, atau motivasi bawaan, dapat membawa anak untuk berkembang
lebih cepat, terutama perkembangan otak atau kognitifnya. Anak yang memiliki motivasi
tinggi ini dapat terlihat dari perilakunya yang aktif, kreatif, dan memiliki
sifat ingin tahu (curiositas) yang tinggi. Anak tersebut biasanya selalu banyak
bertanya dan serba ingin tahu, selalu mencobanya, mempraktekkannya, dan
mencoba-coba sesuatu yang baru.[1]
Sedangkan menurut Puntrich anak mandiri itu
adalah anak yang mampu menggabungkan motivasi dan kognitifnya sekaligus,
sehinggga dapat dikatakan bahwa menjadi anak yang mandiri tergantung pada
kepercayaan terhadap diri sendiri dan motivasinya. Pada aspek motivasi, anak
yang mandiri, biasanya ditandai dengan kemauannya yang keras, tidak cepat putus
asa, bahkan tidak cepat bosan sebelum ia mampu mengetahui dan mencapai sesuatu
yang dicarinya. Sementara pada aspek kognitif, anak telah memiliki banyak pengetahuan
dan perbendaharaan kata atau kalimat yang diutarakannya. Dengan segenap
pengetahuan dan perbendaharaan kata tersebut, maka akan memunculkan sikap
mandiri dan keberanian yang tinggi, baik dalam sikap dan perbuatannya, maupun
dalam menetapkan keputusan yang diambilnya.[2]
Selanjutnya, Tim Pustaka Familia memberikan
beberapa ciri khas anak mandiri, yaitu: 1) mempunyai kecenderungan memecahkan
masalah dari pada berkutat dalam kekhawatiran bila terlibat masalah; 2) tidak
takut mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan baik-buruknya; 3) percaya
terhadap penilaian sendiri sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta
bantuan, dan 4) mempunyai kontrol yang lebih baik terhadap hidupnya.[3]
Dengan membaca beberapa pendapat di atas,
dapat dipahami bahwa sebetulnya setiap anak itu cenderung untuk mandiri atau
memiliki potensi untuk mandiri, karena setiap anak dikarunia perasaan, pikiran,
kehendak sendiri, yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan
sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya.
Seliain itu, kemandirian anak juga sangat dipengaruhi oleh perlakuan orang tua
atau saudara-saudaranya dalam keluarga. Anak yang selalu diawasi secara ketat,
banyak dicegah atau selalu dilarang dalam setiap aktivitasnya dapat berakibat
patahnya kemandirian seseorang.Sikap yang bijak dan perlakuan yang wajar pada
anak dapat memicu tumbuhnya kemandirian anak. Orang tua yang terlalu protektif
pada anaknya, terlalu ketat pengawasannya, banyak dicegah, dengan alasan takut
kotor, takut merusak, atau kekhawatiran terjadi kecelakaan, pada akhirnya bisa
berakibat fatal. Alih-alih bermaksud untuk melindungi atau menjaga anak dari
kecelakaan, kebersihan, dan kerusakan, malah membuat anak menjadi penakut,
kurang percaya diri, serta serba ketergantungan pada orang lain.
Sikap yang wajar dan tidak berlebihan yang
perlu dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya adalah sebagaimana yang
dikemukakan oleh Sylvia Rimm, yang menyatakan bahwa untuk menumbuhkan sikap
percaya diri anak salah satunya adalah senang melihat keberhasilan anak dan
kecewa melihat sikap buruk mereka. Cara ini, menurut Rimm, dianggap sebagai
alat paling efektif dalam menerapkan disiplin pada anak. Cara lain, yang
dikemukakan Rimm, adalah adakalanya orang tua perlu meninggikan nada suara
serta bersikap tegas dalam memberikan batasan kepada anak agar rasa percaya
diri bisa tumbuh dalam diri anak.[4]
Dengan meramu dari beberapa pendapat di atas,
dapat dipahami bahwa ciri-ciri kemandirian anak, termasuk juga pada anak usia
dini, adalah sebagai berikut:[5]
Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya
diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah Percaya Dini
sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena
memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk
anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas
sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan
sesuatu, menentukan pilian sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung
jawab terhadap konsekwensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri
sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang
memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang
melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya
diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini.
Motivasi instrinsik yang tinggi. Motivasi
instrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu.
Motivasi instrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi
ekstrinsik walupun kedua motivasi ini kadang berkurnag, tapi kadang juga
bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk
melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah
merupakan salah satu contoh motivsasi instrinsik. Dengan adanya keingintahuan
yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang
memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan
tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa
diri sendiri.
Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri.
Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan
sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan
digunakannya.
Kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif
pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian, seperti
dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain,
tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, meyukai pada
hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal yang
baru.
Bertanggung jawab menerima konsekwensi yang
menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputuan atau pilihan tentu ada
konsekwensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung
jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak
Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis
ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat
mainan yang lain yang diinginkannya.
Menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi
anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena
mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit
yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi
anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaiakan diri degan
lingkungan yang baru.
Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak
mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak
bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang
lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk
mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat
mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak.
Mengembangkan kemandirian pada anak pada
prinsipnya adalah dengan memberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai
akivitas. Semakin banyak kesempatan yang diberikan pada anak, maka anak akan
semakin terampil mengembangkan skillnya sehingga lebih percaya diri.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mengembangkan kemamdirian anak
ini, sebagaimana yang disarankan oleh Ratri Sunar Astuti, yaitu:[6]
Anak-anak didorong agar mau melakukan sendiri
kegiatan sehari-hari yang ia jalani seperti mandi sendiri, gosok gigi, makan
sendiri, bersisir, berpakaian, dan lain sebagainya segera setelah mereka mampu
melakukan sendiri.
Anak diberi kesempatan sesekali mengambil
keputusan sendiri, misalnya memilih baju yang akan dipakai.
Anak diberi kesempatan untuk bermain sendiri
tanpa ditemani sehingga terlatih untuk mengembangkan ide dan berpikir untuk
dirinya. Agar tidak terjadi kecelakaan maka atur ruangan tempat bermain anak
sehingga tidak ada barang yang membahayakan.
Biarkan anak mengerjakan segala sesuatu
sendiri walaupun sering membuat kesalahan.
Ketika bermain bersama bermainlah sesuai
keinginan anak, jika anak tergantung pada kita maka beri dorongan untuk
berinisiatif dan dukung keputusannya.
Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan
idenya
Latihlah anak untuk mensosialisasi diri,
sehingga anak belajar menghadapi problem sosial yang lebih kompleks. Jika anak
ragu-ragu atau takut cobalah menemaninya terlebih dahulu, sehingga anak tidak
terpaksa.
Untuk anak yang lebih besar, mulai ajak anak
untuk mengurus rumah tangga, misalmya menyiram tanaman, membersihkan meja,
menyapu ruangan, dan lain-lain.
Ketika anak mulai memahami konsep waktu dorong
mereka untuk mengatur jadwal pribadinya, misalnya kapan akan belajar, bermain
dan sebagainya. Orang tua bisa mendampingi dengan menanyakan alasan-alasan
pengaturan waktunya.
Anak-anak juga perlu diberi tanggung jawab dan
konsekwensinya bila tidak memenuhi tanggung jawabnya. Hal ini akan membantu
anak mengembangkan rasa keberartian sekaligus disiplin.
Kesehatan dan kekuatan biasanya berkaitan juga
dengan kemandirian, sehingga perlu memberikan menu yang sehat pada anak dan
ajak anak untuk berolah raga atau melakukan aktivitas fisik.
Kemandirian sangat dipengaruhi oleh
kepercayaan diri. Dalam riset terbaru mengenai perkembangan kepercayaan diri
dan kepercayaan antara anak dengan orang tua ditemukan bahwa jika anak merasa
aman, maka anak akan lebih mau melakukan penjelajahan sendiri, lebih mampu
mengelola stress, mempelajari ketrampilan baru, dan berhubungan dengan orang
lain serta memiliki kepercayaan lebih bahwa mereka cukup kompeten untuk menghadapi
lingkungan yang baru.[7]
Untuk mendorong pertumbuhan dan kemandirian
anak, Tracy Hogg dan Melinda Blau menjelaskan lebih lanjut bahwa dengan menahan
diri kita akan mengumpulkan banyak informasi dengan memperhatikan,
mendengarkan, dan menyerap seluruh gambar untuk menentukan apa dan siapa anak
kita, sehingga kita dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami bagaimana
respon anak tersebut pada lingkungan sekitar. Dengan menahan diri, kita juga
dapat mengirimkan sinyal bahwa ia kompeten dan kita mempercayainya anak
melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya.[8]
Dengan mendorong penjelajahan, kita
menunjukkan pada anak bahwa kita percaya pada kemampuannya untuk mengalami apa
yang ditawarkan oleh kehidupan yang ia alami, dan kita ingin agar anak kita
bereksperimen dengan benda-benda, orang, dan pada akhirnya ide-ide yang baru.
Dengan demikian anak akan lebih terdorong untuk melakukan semua tindakan tanpa
merasa takut dihantui oleh kita sebagai orang tuanya.
Kegiatan membatasi orang tua mengemukakan
dengan benar peran kita sebagai orang dewasa, menjaga anak dalam batas aman,
membantunya membuat pilihan yang tepat, dan melindungi anak tersebut dari
situasi berbahaya baik secara fisik maupun secara emosional.
Dengan memuji kita mengukuhkan pembelajaran
yang telah kita berikan, pertumbuhan, dan perilaku yang bermanfaat bagi anak
ketika ia memasuki dunia dan berinteraksi dengan anak-anak dan orang dewasa
lainnya. Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan pujian dengan
benar, ia semakin terdorong untuk belajar lebih, dan dapat menikmati kerjasama
yang terjalin antara dirinya dengan orang tuanya. Anak yang biasa diberikan
pujian dengan benar menjadi lebih dapat lebih menerima masukan dari orang
tuanya, dan bukan suatu hal yang kebetulan seandainya orang tua menjadi lebih
perhatian dan penyayang. Pujian hanya diberikan jika anak telah melakukan
perkerjaan dengan baik. Tujuan pujian bukanlah untuk membuat anak senang,
melainkan untuk menekankan bahwa pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik,
untuk memuji sikap yang baik, dan mengakui ketrampilan sosial yang dimiliki
anak, termasuk segi keramahan dan kerjasama. Dengan pujian anak akan tahu ia
telah melakukan sesuatu dengan benar dan baik.
Kasih sayang dan cinta merupakan unsur ajaib
dalam hal menjadi orang tua. Jika anak dicintai dan disayangi ia akan merasa
aman dan ingin menyenangkan orang tuanya. Tidak ada kata terlalu banyak kasih
sayang dan cinta, siapkah kita menjadi orang tua yang bijaksana.
DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS
KURIKULUM 2013
[1]Ahmad Susanto, Memahami Perilaku
Kemandirian Anak Usia Dini, Jurnal Pendidikan, Universitas Muhammadiyah
Jakarta, dipublikasikan melalui laman http://www.fipumj.net/artikel8f14e45fceea167a5a36dedd4bea2543-MEMAHAMI-PERILAKU-KEMANDIRIAN-ANAK-USIA-DINI.html,
diakses tanggal 14 Juni 2014.
[2]Ahmad Susanto, Memahami…, tanggal
14 Juni 2014.
[3]Ahmad Susanto, Memahami…, tanggal
14 Juni 2014.
[4]Ahmad Susanto, Memahami…, tanggal
14 Juni 2014.
[5]Ahmad Susanto, Memahami…, tanggal
14 Juni 2014.
[6]Ahmad Susanto, Memahami…, tanggal
14 Juni 2014.
[7]Ahmad Susanto, Memahami…, tanggal
14 Juni 2014.
[8]Ahmad Susanto, Memahami…, tanggal
14 Juni 2014.
