TEKNIK PENSKORAN DAN ANALISIS HASIL EVALUASI PEMBELAJARAN
TEKNIK PENSKORAN DAN ANALISIS HASIL EVALUASI PEMBELAJARAN, PENGERTIAN SKOR, PENGERTIAN PENSKORAN NILAI, PENGERTIAN NILAI, PENGERTIAN ANALISIS, PENGERTIAN ANALISIS BELAJAR, PENGERTIAN EVALUASI BELAJAR, PENGERTIAN EVALUASI PEMBELAJARAN,
Pemberian skor (Scoring) “merupakan langkah pertama dalam
proses pengolahan hasil tes, yaitu proses pengubahan jawaban-jawaban soal tes
menjadi angka-angka. Dengan kata lain perubahan skor itu merupakan tindakan
kuantiafikasi terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh testee dalam suatu
tes hasil belajar.”
Angka-angka hasil penilaian itu selanjutnya dirubah menjdi
nilai-nilai (grade) melalui proses tertentu. Penggunaan simbul untuk menyatakan
nilai-nilai hasil tes itu ada yang tertuang dalam bentuk angka dengan rentangan antara 0 sampai
dengan 10, antara 10 sampai dengan 100. Dan ada pula yang menggunakan symbol
huruf A, B, C, D dan F (F=fail=gagal).
Cara pemberian skor terhadap hasil tes belajar pada umumnya
disamakan dengan bentuk soal-soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut; apakah
tes uraian (essay tes) ataukah tes obyektif (Obyektif tes).
Pemberian skor pada tes uraian
Pada tes uraian, pemberian skor umumnya mendasarkan diri
kepada bobot (weight) yang diberikan untuk setiap butir soal, atas dasar
tingkat kesukarannya, atau atas dasar banyak sedikitnya unsur yang harus
terdapat dalam jawaban yang dianggap paling baik (paling betul).
Sebagai contoh dapat dikemukakan disini misalnya tes
subyektif menghidangkan lima butir soal. Pembuatan soal (testee) telah
menetapkan bahwa kelima butir soal itu mempunyai derajat kesukaran yang sama
dalam unsur-unsur yang terdapat pada setiap butir soal telah dibuat sama
banyaknya. Atas dasar itu maka tester menetapkan bahwa testee yang dapat
menjawab dengan jawaban paling betul (paling sempurna) diberikan skor 10. Jika
hanya betul separoh diberikan skor 5, hampir seluruhnya betul diberikan skor 9,
dan seterusnya.
Dalam “keadaan dimana butir-butir soal yang digunakan dalam
bentuk tes uaraian itu untuk tiap butir soal tidak memiliki derajat kesukaran
yang sama, atau jumlah unsur yang terdapat pada setiap butir soal adalah tidak
sama, maka pemberian skornya juga harus berpegang kepada derajat kesukaran dan
jumlah unsur yang terdapat pada masing-masing butir soal tersebut.”
Contoh:
Misalkan dari lima butir soal tes uraian. Butir soal nomor 1
diberikan skor maksimal 8, butir soal nomor 2 diberikan skor maksimum 10, butir
soal nomor 3 diberi skor maksimum 6, butir
soal nomor 4 diberi skor maksimum 10, dan butir soal nomor 5 diberi skor
maksimum 8, seorang testee yang butir soal untuk nomor 1 jawabannya hanya diberikan
skor 4 (yaitu 8:2=4), untuk butir soal nomor 2 dari unsur jawaban yang ada
hanya jawaban betul sebanyak 6 unsur saja, maka kepada testee tersebut diberikan
skor 6, demikian seterusnya.
Pemberian skor pada tes obyektif
Pada tes obyektif, “untuk memberikan skor umumnya digunakan
rumus carretion for guessing atau dikenal dengan istilah sistem denda. Untuk
tes obyektif bentuk true-false misalnya setiap item diberikan skor maksimum 1
(satu) apabila seorang testee menjawab betul satu item sesuai dengan kunci
jawaban maka kepadanya diberikan skor 1 apabila dijawab salah maka skornya 0
(nihil).”
Adapun cara menghitung skor terakhir dari seluruh dan bentuk
true-false dapat digunakan dua macam rumus, yaitu:
Rumus yang memperhitungkan denda
Rumus yang mengabaikan atau meniadakan denda
Penggunaan rumus-rumus tersebut, sepenuhnya diserahkan
kepada kebijaksanaan tester, apakah dalam hasil tes belajar tersebut kepada tester
akan dikenai denda (bagi jawaban yang salah) ataukah tidak.
Contoh: dalam tes
hasil belajar bidang studi fiqih yang diikuti oleh 40 orang siswa Madrasah
Aliyah diajukan 20 butir item tes obyektif bentuk true false, dengan ketentuan
bahwa untuk setiap butir item yang dijawab betul diberikan bobot 1 dan setiap
butir item yang dijawab salah diberi bobot 0.
Dalam tes tersebut seorang siswa bernama Basirun dapat
menjawab dengan betul sebanyak 15 butir item (R=15) berarti jawaban yang salah
= 20 – 15 = 5 (W=5). Sedangkan optionnya = 20 (0 = 2). Apabila terhadap jawaban
salah itu dikenai sangsi berupan denda maka skor akhir yang diberikan kepada
Basirun adalah
Sedangkan apabila terhadap jawaban yang salah itu tidak
dikenai sangsi berupa denda, maka skor yang diberikan kepada Basirun tersebut
adalah S = R = 15:
Kemudian teknik penganalisisan hasil evaluasi pembelajaran
dapat dilakukan dari tiga segi yaitu:
Dari segi derajat kesukaran item
Bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil berlajar
pertama-tama dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang
dimiliki oleh masing-masing item tersebut. “Butir-butir item tes hasil belajar
dapat dinyatakan sebagai butir-butir item yang baik, apabila butir-butir item
tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah dengan kata lain derajat
kesukaran item itu adalah sedang atau cukup.” Bertitik tolak pada pernyataan
tersebut di atas maka, butir-butir item hasil belajar dimana seluruh hasil testee
tidak dapat menjawab dengan betul
(karena terlalu sukar) tidak
dapat disebut sebagai item yang baik. Demikian pula sebaliknya, butir-butir
item tes hasil belajar dimana seluruh testee dapat menjawab dengan betul (karena terlalu mudah) juga tidak dapat dimasukkan dalam katagori
item yang baik. “Sudah atau memadai derajat kesukaran item tes hasil belajar
dapat diketahui dari besar kecilnya angka melambangkan tingkat kesulitan
tersebut.” Angka yang dapat memberikan petunjuk tingkat kesulitan item itu
dikenal dengan istilah deffilty indekx (angka indekx kesukaran item), yang di
dalam dunia evaluasi hasil belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P, yaitu profortion
(proporsi = proporsa).
Angka indekx
kesukaran item itu besarnya berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00 artinya,
angka index kesukaran itu paling rendah adalah 0,00 dan paling tinggi 1,00.
Angka indekx kesukaran sebesar 0,00 (p = 0,00) merupakan petunjuk bagi testee
bahwa butir item tersebut termasuk dalam katagori item yang terlalu sukar,
sebab di sini seluruh testee tidak dapat menjawab item dengan betul (yang dapat
menjawab dengan betul = 0). Sebaliknya, apabila angka indekx kesukaran item itu
adalah 1,00 (p = 1,00). Hal ini mengandung makna bahwa butir item yang terlalu
mudah, sebab di sini seluruh testee dapat menjawab dengan betul butir item yang
bersangkutan (yang dapat menjawab dengan butir = 100% = 100 = 100 = 1,00).
Dari segi daya pembeda item
Daya pembeda item adalah “kemampuan suatu butir item tes
hasil belajar untuk dapat membedakan (mendiskriminasi) antara testee yang
berkemampuan tinggi (pandai), dengan testee yang berkemampuannya rendah
(bodoh).”
“Daya pembeda item dapat diketahui melalui atau dengan
melihat besar kecilnya angka indekx diskriminasi item.” Angka indekx diskriminasi
item adalah sebuah angka atau bilangan yang menunjukkan besar kecillnya daya
pembeda item (discrimina fory power) yang dimiliki oleh sebutir item. discrimina
fory power pada dasarnya dihitung atas dasar pembagian testee ke dalam dua
kelompok, yaitu kelompok atas (the higher group), yakni kelompok tester yang
tergolong pandai dan kelompok bawah (the lower group) yaitu kelompok tester
yang tergolong bodoh.
Adapun cara pembentukan dua kelompok itu bisa bervariasi,
misalnya: dapat menggunakan median sehingga pembagian menjadi dua kelompok yang
terdiri atas 50% testee kelompok atas dan 50% testee kelompok bawah: dapat juga
dengan hanya mengambil 20 % dari testee yang termasuk dalam kelompok atas dan
20% lainnya diambilkan dari testee yang termasuk dalam kelompok bawah: dapat
juga menggunakan angka persentase lainnya. Indekx diskriminasi item umumnya
diberi lambang dengan hurup D (discrimina fory power), dan seperti halnya angka
indekx kesukaran item, maka indekx diskriminasi item ini besarnya berkisar
antara 0 sampai dengan 1,00. Namun di antara keduanya terdapat perbedaan yang
berdasarkan, yaitu: kalau angka indekx kesukaran item tidak mungkin bertanda
minus (negatif) maka daya indekx pembeda item dapat bertanda minus. Dalam
hubungan ini jika sebutir item memiliki angka indekx diskriminasi item tanda
plus (positif) hal ini merupakan petunjuk bahwa item tersebut telah memiliki
daya pembeda, dalam arti testee yang termasuk kategori pandai lebih banyak yang
dapat menjawab dengan betul terhadap butir item yang bersangkutan, sedangkan
tester katagori bodoh lebih banyak yang menjawab salah.
Dari segi fungsi distractor
Menganalisis fungsi distractor sering dikenal dengan
istilah: menganalisis pola penyebaran jawaban item. Adapun pola penyebaran
jawaban item ialah suatu pola yang dapat menggambarkan bagaimana testee
menentukan pilihan jawabannya terhadap kemungkinan-kemungkinan jawab yang telah
dipansangkan pada setiap butir item.
Suatu kemungkinan dapat terjadi, yaitu bahwa dari
keseluruhan alternatif, yang dipasang pada butir item tertentu, sama sekali
tidak dipilih oleh testee. Dengan kata lain, testee menyatakan “blangko”.
Pernyataan blangko ini sering dikenal dengan istilah oniet dan biasa diberi
lambang dengan huruf o. selanjutnya untuk menganalisis fungsi distractor
tersebut perlu diketengahkan bahwa kelaziman yang berlaku dalam dunia evaluasi
hasil belajar ialah, bahwa distractor dinyatakan telah dapat menjalankan
fungsinya dengan baik apabila distractor tersebut sekurang-kurangnya sudah
dipilih oleh 5% dari seluruh tes. Misalnya, “tes hasil belajar diikuti oleh 100
orang testee. Distractor yang dipasang pada item tersebut dapat dikatakan
berfungsi apabila minimal 5 orang dari testee itu sudah “terkecoh” untuk
memilih distractor tersebut.
Contoh menganalisis fungsi distractor. Misalnya tes hasil belajar bidang studi
Aqidah Akhlak diikuti oleh 50 orang siswa Madrasah Tsanawiyah. Bentuk soalnya
adalah multiple coice dengan item sebanyak 40 butir , dimana setiap butir item
dilengkapi dengan 5 alternatif, yaitu A, B, C, D dan E. Dari 40 butir item
tersebut di atas, khususnya untuk butir item nomor 1, 2 dan 3 diperoleh pola
penyebaran item sebagai berikut:
|
Nomor butir item
|
Alternatif (=option)
|
Keterangan
|
|
A B C D E
|
||
|
1
2
3
|
4 6 5
(30) 5
1 (44) 2 1 2
1 1 (10) 1 37
|
( ) : kunci jawaban
|
Dengan pola penyebaran jawaban item sebagaimana tergambar
pada tabel analisis di atas, maka dengan mudah dapat kita ketahui, berapa
persen testee yang telah “terkecoh” untuk memilih distractor yang dipasangkan
pada item 1, 2 dan 3.
a). untuk item nomor 1 kunci jawabannya adalah D. sedangkan
pengecoh atau distractor adalah A, B, C dan E. jadi keempat pengecoh yang
dipasang pada item nomor 1 itu sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
b). untuk item nomor 2 kunci jawabannya adalah B, sedangkan
pengecohnya adalah A, C, D dan E. jadi keempat pengecoh yang dipasangkan pada
item nomor 2 itu belum dapat menjalankan fungsinya seperti yang diharapkan.
c). untuk item nomor 3 kunci jawabannya adalah C, sedangkan
pengecohnya adalah A, B, D dan E. jadi pada butir item nomor 3 itu hanya 1 buah
pengecoh saja yang sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Perlu
ditambahkan, bahwa dengan menggunakan tabel analisis tersebut, di samping dapat
diketahui fungsi/tidaknya distractor, dapat pula diketahui dengan kesukaran
item dan daya pembeda itemnya.
DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS
KURIKULUM 2013
