KONSEP KEMANDIRIAN ANAK FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT KEMANDIRIAN ANAK
PENGERTIAN DAN KONSEP KEMANDIRIAN ANAK, FAKTOR PENDUKUNG KEMANDIRIAN ANAK, FAKTOR
PENGHAMBAT KEMANDIRIAN ANAK, CONTOH SKRIPSI STAI, CONTOH SKRIPSI UIN, CONTOH
SKRIPSI IAIN, CONTOH SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA, CONTOH LENGKAP SKRIPSI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.
Kemandirian anak
pada umumnya dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan segala sesuatunya
sendiri. Apakah itu memakai baju sendiri, menalikan sepatunya sendiri tanpa
harus tergantung pada bantuan orang lain. Sesungguhnya kemandirian tidak hanya
bersifat fisik tetapi juga psikologis. Seperti mampu mengambil keputusan
sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil serta sikap-sikap
lain yang mengacu kepada keberanian seseorang untuk menentukan nasibnya
sendiri.
Dasar dari sikap
mandiri adalah rasa percaya diri pada anak khususnya anak balita. Rasa percaya
diri ini sedang dalam masa pembentukan. Segala tingkah laku mandirinya
sebenarnya berawal dari rasa ingin tahu an kesadaran anak bahwa ia terpisah
dengan lingkungan sifat egoistis mulai muncul. Sifat ini kemudian diikuti
dengan keinginan untuk menunjukkan rasa mampu. Apakah itu mampu makan sendiri,
memakai sepatu sendiri atau memberikan mainannya sendiri atau membereskan mainannya
kembali.
Rasa mampu
berkembang menjadi rasa percaya diri, bila orang tua tidak segan-segan memberikan
anak kesempatan untuk mencoba melakukan segala sesuatunya sendiri misalnya.
Apakah itu makan sendiri atau menyisir rambut sendiri sekalipun hasilnya jauh
dari rapi, tetapi kesempatan tentu saja bukan satu-satunya. Hal lainnya adalah
kepercayaan yang diekspresikan orang tua dalam sikap serta
komentar-komentarnya. Memberikan anak pujian, seberapa pun kecilnya prestasi
itu menurut anda, penghargaan dan kepercayaan akan membentuk rasa percaya diri
anak.
Banyaknya
kesempatan dan kepercayaan yang diberikan orang tua membuat anak punya peluang
besar untuk menjadi pribadi yang mandiri, tidak hanya mandiri secara fisik
tetapi juga psikologis kelak. Seorang anak yang memiliki rasa mandiri yang
tinggi adalah anak yang berusaha keras dan hampir berhasil menggali segenap
potensi dirinya. Anak yang mandiri tidak terus merenungi dirinya sendiri tetapi
secara teratur mereka memikirkan perasaan, pikiran, perilaku dan selalu ingin
tahu bagaimana pendapat orang lain tentang dirinya dan biasanya mereka
merupakan teman yang menyenangkan. Sebabnya yaitu karena mereka biasa melihat
kehidupan dari sisi yang cerah dan mereka berharap serta mencari pengalaman dan
hasil yang bagus. Dengan memiliki percaya diri dan kemandirian yang baik maka
dalam berkomunikasi anak akan lebih baik pula misalnya anak akan dapat:
Mendengarkan orang
lain dengan tenang dan perhatian.
Bisa
berbincang-bincang dengan orang lain dari segala usia dan segala jenis latar
belakang.
Tahu kapan dan
bagaimana pokok pembicaraan.
Memakai komunikasi
nonverbal secara efektif sehingga dengan bahasa verbalnya.
Membaca dan
memanfaatkan bahasa orang lain.
Berbincang dengan
memakai nalar dan secara fasih.
Berbicara di depan
umum tanpa rasa takut.
Dalam membina untuk
mandiri dan menghadapi tantangan yang relatif lebih berat harus sesuai
keperluan anak mulai dari menyikat gigi, menata buku-buku pelajaran, makan dan
sebagainya sudah dilatih sejak dini. Orang tua dan pendidik pun merasa bahwa sudah
sepantasnya mengasuh, membantu, mendidik dan membina untuk melayani anak-anaknya.
Situasi seperti ini dapat menumbuhkan anak menjadi dewasa dan mandiri bahwa
anak-anak yang memiliki kemandirian yang baik mereka akan:
Tumbuh dengan harapan bahwa hidup
ini pada umumnya menyenangkan.
Memandang orang
lain dari sisi positifnya, kecuali ada alasan khusus untuk berhati-hati.
Percaya bahwa
kebanyakan masalah bisa diselesaikan.
Tidak
menyia-nyiakan tenaga dengan mengkhawatirkan kemungkinan hasil yang negatif.
Percaya bahwa masa
depan anak sebaik (mungkin lebih baik) masa lalu.
Mau bekerja
meskipun ada perubahan yang membuat frustasi karena mereka suka pada
pertumbuhan dan perkembangan.
Bersedia
menghabiskn waktu dan energi untuk belajar dan melakukan
tugasnya karena
mereka percaya bahwa akhirnya tujuan mereka akan tercapai.
Sejak bayi
dilahirkan, bayi akan berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan orang
tuanya. Kemudian juga pendidik dan orang lain yang ada di lingkungannya. Pada
bulan dan tahun pertama kehidupannya merupakan masa yang penting dan rawan
dalam perkembangan anak. Bila orang tua kurang menyadari pentingnya arti
kualitas hubungan serta sikap penuh kasih sayang pada masa ini, maka anak bisa
mengalami berbagai masalah dan gangguan yang serius di kemudian hari.
Sebaliknya bila kebutuhan anak terpenuhi secara seimbang dalam awal
kehidupannya, di kemudian hari ia berkembang menjadi individu yang bahagia dan diharapkan
mampu mewujudkan potensi-potensinya secara optimal. Maka dari itu, orang tua harus
bisa mengasuh anak dengan baik baik agar perkembangannya menjadi optimal. Terdapat
beberapa petunjuk mengasuh anak agar menjadi mandiri, petunjuk tersebut penulis
rangkum sebagai berikut:
Beri anak
kesempatan untuk bergaul dengan saudara atau teman sebayanya, agar anak itu
bisa belajar bersaing, bernegoisasi dan berbagi.
Berikan anak lebih
banyak kebebasan untuk menjadi diri sendiri, memberi anak kesempatan dalam mengembangkan
minat dan kemampuannya sendiri, bukan minat orang tua. Orang tua dapat menyediakan
berbagai sarana seperti buku-buku, mainan, alat-alat pertukangan, kedokteran, dan
lain-lain.
Pada masa ini
perkembangan anak mulai beranjak untuk menjadi manusia sosial dan belajar
bergaul dengan orang lain. Anak mengembangkan banyak kemampuan dan keterampilan
baru yang sebelumnya belum bisa anak lakukan. Pada masa ini aka mengembangkan
otonominya seiring dengan pengembangan berbagai keterampilan (motorik kasar dan
halus, bahasa, dan lain-lain). Anak menikmati kegiatan menjelajahi duni di sekitarnya.
Masa-masa ini adalah proses belajar yang dilalui melalui interaksinya dengan
orang-orang dan di dunia sekitarnya. Proses belajar yang anak lalui lebih
bersifat alamiah dan tidak terstruktur (dibandingkan dengan proses belajar di
masa sekolah) namun, dalam beberapa hal anak akan terasa lebih menyenangkan
karena anak masih menikmati kebebasannya. Orang tua harus mulai memikirkan gizi
apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak-anak dalam perjalanan perkembangan mereka
agar kemampuan mereka untuk merasa mandiri dalam ditumbuhkan sepenuhnya. Terdapat
delapan bidang utama yang sudah penulis simpulkan, yaitu:
Cinta; anak perlu
terus merasa dicintai tanpa syarat. Untuk perkembangan harga diri yang sehat
dan langgeng, mereka harus merasa bahwa mereka dihargai karena keadaan mereka
sesungguhnya bukan keadaan mereka yang seharusnya atau seperti yang diinginkan
orang lain.
Rasa Aman; ketakutan
dan kekhawatiran adalah musuh terbesar dari rasa percaya diri. Anak yang selalu
khawatir bahwa kebutuhan dasar mereka tidak akan terpenuhi atau bahwa dunia
lahiriah atau batiniah mereka setiap saat bisa pecah berhamburan, akan sulit
mengembangkan pandangan positif tentang diri mereka, orang lain dan dunia pada
umumnya. Bila anak merasa aman, mereka secara otomatis akan mencoba mengembangkan
kemampuan mereka sehingga anak dengan mandiri dan percaya diri menjawab
tantangan serta berani mengambil risiko yang menarik.
Model Peran; sebagai
pendidik dan orang tua, mengajarkan anak lewat contoh adalah cara yang paling
efektif dalam mengembangkan sikap dan keterampilan sosial yang diperlukan anak
untuk menambah kemandiriannya.
Hubungan; untuk
mengembangkan kemandirian terhadap segala macam hal, anak perlu mengalami dan
bereksperimen dengan beranekaragam hubungan, dari yang dekat dan akrab di rumah
sampai ke yang lebih asing.
Kesehatan; kita
tahu, misalnya bahwa anak yang kurang gizi tidak bisa belajar efektif dan
karena itu tidak dapat menggunakan kemampuannya sepenuhnya. Kita juga tahu
bahwa anak-anak berkembang bila kesehatan mereka baik dalam masyarakat bisa
dipastikan bahwa anak yang tampak sehat biasanya mendapat lebih pujian,
perhatian, dorongan moral bahkan semangat.
Sumber Daya; nenek
moyang kita zaman dulu yang hidup di gua-gua barangkali tidak memerlukan uang
atau sumber daya material atau pendidikan untuk mengembangkan rasa mandiri,
tetapi kini kita hidup di zaman modern. Anak-anak memiliki banyak sumber daya
seperti buku, mainan, alat musik, fasilitas olahraga, les tambahan dan
perjalanan pasti lebih beruntung dibandingkan dengan mereka yang pilihannya
terbatas. Sumber daya itu tentu saja bukan merupakan keharusan untuk perkembangan
inti rasa mandiri, tetapi kalau dipakai dengan baik dan tepat, bisa memberi
dorongan yang kuat karena menyediakan jenis kesempatan yang memajukan perkembangan
kemampuan anak dan memungkinkan mereka memakai kekuatan mereka atau memperbaiki
kelemahan mereka.
Dukungan; selain
sumber daya, di sini anak juga membutuhkan dorongan dan pembinaan bagaimana
menggunakan sumber daya ini demi kemajuan mereka. Mereka membutuhkan orang yang
menjadi akar bagi mereka, agar mereka lebih mandiri dan terampil. Orang yang
memberi pada mereka umpan balik yang jujur dan membangun baik mereka berhasil maupun
gagal. Dukungan juga merupakan faktor utama dalam membantu anak sembuh dari
pukulan terhadap rasa percaya diri dan mandiri.
Hadiah; meskipun
proses mengembangkan rasa mandiri itu sendiri bisa mengasyikan dan
menyenangkan, tetapi kadang-kadang tidak demikian. Hadiah untuk usaha dan hasil
dalam perjalanan ke tujuan kita yang lebih jauh seringkali bukan saja
diinginkan, tetapi juga perlu sekali. Anak-anak jelas bukan merupakan
kekecualian dan segala macam aturan. Anak yang cukup beruntung menerima “buah
jerih payah” secara teratur dan cukup banyak (tentu saja tidak perlu berupa hadiah
barang) untuk usaha mereka, cenderung mempertahankan keinginan alamiah mereka
akan tantangan yang mendorong moral, dibandingkan dengan anak yang tidak
mendapatkan hal itu.
Sebagai orang tua
dan pendidik, kita mencoba meletakkan dasar-dasar rasa mandiri untuk anak kita,
hal itu sangatlah penting untuk mencapai keseimbangan yang baik. Dalam periode
pra sekolah, anak dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan berbagai orang
dari berbagai tatanan yaitu keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Perkembangan kelekatan
anak dengan pengaruh pertamanya sangat penting dalam mengembangkan emosinya
dalam tatanan lingkungan baik di dalam maupun di luar keluarga. Anak pra
sekolah biasanya telah mampu mengembangkan keterampilannya yang sederhana dan
perkembangan tingkah laku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan
sehingga dapat memikat orang lain.
Anita Lie dan Sarah
Prasasti, menemukan bahwa ada beberapa cara untuk membina anak menjadi mandiri.
Cara tersebut bisa digunakan juga untuk membina kemandirian anak tunggal,
antara lain sebagai berikut:
Memberi tugas
kepada anak untuk membereskan dan menyimpan barang-barang miliknya. Anak mulai
mengenali barang-barang miliknya dan mulai mempunyai rasa memiliki.
Orang tua dapat
mulai menumbuhkan rasa mandiri anak dengan memberi tugas-tugas sederhana,
seperti membereskan mainan, mengembalikan buku atau membawa perangkat makan.
Jika memungkinkan
fasilitasi anak dengan perabotan anak. Perabotan anak yang didesain sesuai
dengan daya jangkau dan ukuran tubuh anak.
Ajarkan anak untuk
bertanggung jawab atas barang-barang miliknya. Orang tua dapat memberi
kepercayaan kepada anak untuk bertanggung jawab atas barang miliknya pada saat
anak berada di luar rumah. Hal ini penting bagi anak karena pada saat menginjak
usia sekolah. Anak telah menjadi bagian dari masyarakat sosial yang akan banyak
menghabiskan waktu di luar rumah.
Mandi dan
membersihkan diri secara mandiri. Rasa ketergantungan yang besar terhadap anak
dewasa di sekitar secara bertahap mulai dihilangkan. Mandi sendiri juga
merupakan bentuk kemandirian anak untuk menjaga kebersihan diri dan bentuk
tanggung jawab sederhana atas sikap terhadap dirinya.
Membuka dan
mengenakan pakaian, celana dan sepatunya sendiri. Secara umum perkembangan
fisik anak akan berjalan seirama dengan kemampuan motoriknya, baik motorik
kasar dan halus. Orang tua perlu mengarahkan anaknya pada tugas dan kegiatan
yang kondusif dan mendukung perkembangannya. Kemandirian untuk berpakaian dan bersepatu
akan meningkatkan perkembangan motorik halus anak. Di samping itu juga akan
menumbuhkan kesadaran anak akan kemampuan sensoriknya serta mengembangkan sikap
positif terhadap dirinya.
Merapikan rambut
sendiri. Merapikan rambut merupakan hal yang tidak mudah bagi anak perempuan.
Anak membutuhkan bantuan ibu atau pengasuh untuk menyisir, mengepang, menguncir
bahkan memasang jepit. Ajarkan anak untuk secara mandiri mengurus rambutnya.
Dengan demikian ia akan membiasakan diri untuk tampil dengan rambut rapi. Beri kesempatan
anak untuk mencoba dan beri pujian untuk usaha yang dia lakukan walaupun
mungkin hasilnya tidak memuaskan.
Mengenal dan
menghargai waktu. Orang tua perlu membina anak secara dini untuk menumbuhkan
anak menjadi pribadi yang menghargai waktu, bertanggung jawab, mandiri dan
dapat diandalkan. Dalam hal ini orang tua idealnya adalah model yang pertama
dan paling berpengaruh bagi anak.
Membagi waktu. Membagi
waktu adalah pekerjaan yang tidak mudah bahkan bagi orang dewasa sekalipun.
Anak membutuhkan waktu dan bimbingan untuk memahami perlunya keseimbangan
antara waktu menikmati masa kanak-kanak (bermain) yang memang menjadi hak tiap
anak dan waktu untuk melakukan rutinitas sehari-hari (makan, mandi, tidur) dan
tugastugas sekolah yang merupakan kewajibannya. Anak seringkali melupakan waktu
dan terbenam dalam berbagai macam permainan menarik seperti halnya play
station, komputer dan sebagainya.
Belajar untuk
mengakui kesalahan dan meminta maaf jika melakukan kesalahan. Orang tua perlu
membantu anak tumbuh sebagai pribai utuh yang bertanggung jawab atas ucapan dan
tindakan. Anak perlu memahami sejak dini bahwa melakukan kesalahan adalah hak
yang sangat manusiawi. Seringkali anak mengelak dari tanggung jawab karena
takut, menghindari hukuman atau gengsi.
Tidur di kamar
terpisah dari orang tua. Jika memungkinkan, sebaiknya anak memiliki kamar tidur
pribadi. Keberanian untuk tidur di kamar sendiri merupakan bentuk kemandirian
anak. Namun kita perlu memahami rasa takut dan cemas anak yang mungkin timbul
misalnya ketakutan anak akan gelap atau hantu. Dorong dia agar lebih berani,
sekali waktu jika anak merindukan untuk dapat tidur bersama orang tua,
perbolehkan ia untuk 1/2 malam. Hal itu dilakukan secara bertahap dan antar
anak ke kamarnya dan luangkan waktu untuk mengobrol atau mendongeng. Pada
awalnya, tunggu anak sampai tidur.
Beri anak
kesempatan untuk menentukan pilihannya. Anak perlu mendapat kesempatan untuk
belajar menimbang dan menentukan pilihannya. Dengan demikian dia akan terbiasa
mengambil keputusan tanpa tergantung pada orang lain. Orang tua dan pendidik memberikan
kesempatan kepada anak untuk belajar mulai dengan hal-hal sederhana sesuai
dengan kapasitas anak.
Biarkan anak
mengambil bagian dalam pekerjaan rumah. Ajarkan anak untuk membantu dan
mengambil bagian dalam kegiatan rutin keluarga. Dengan memberi tugas-tugas
sederhana, libatkan anak untuk mengambil bagian dalam tanggung jawab bersama.
Selagi itu kegiatan semacam ini (ringan dan sederhana) akan mendekatkan tiap anggota
keluarga.
Ajar anak belajar
menabung. Di tengah masyarakat yang kian konsumtif, orang tua perlu memperkenalkan
kebiasaan menabung sedini mungkin. Pemahaman anak akan arti dan nilai uang
sendiri memang masih sangat abstrak. Namun, kebiasaan ini perlu dipupuk
sehingga anak akan terbiasa menghargai uang dan bertanggung jawab atas uangnya.
Dampingi anak dalam
menyelesaikan masalah-masalah di sekolah sendiri. Orang tua perlu memberikan
kebebasan kepada anak untuk berpikir dan berusaha menyelesaikan masalah. Orang
tua yang selalu berusaha memecahkan masalah anak akan menghalangi anak untuk
bersikap mandiri. Selain itu juga, menciptakan ketergantungan anak pada orang tua
dan tidak mampu mencari solusi. Tentu saja campur tangan orang tua perlu selalu
diberikan dengan cara mendampingi anak, memberi saran atau pengertian dan
menumbuhkan keberanian, namun bukan dengan mengambil alih permasalahan itu.
Mendorong anak
untuk berani menerima tanggung jawab di luar rumah. Setelah terbiasa menerima
tanggung jawab dari orang tua di rumah, dorong anak untuk mulai berani menerima
tanggung jawab dari lingkungan sosialnya. Sebagian anak akan menerima tugas ini
dengan bangga dan senang hati. Sebagian anak mungkin merasa gelisah, enggan
atau bahkan menolak. Pada umumnya, mereka merasa khawatir atau cemas tidak
dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik, semangati mereka untuk berani
menerima tanggung jawab itu.
Belajar mengetahui
baik dan buruk. Anak-anak menganggap penderitaan/segala sesuatu yang tidak menyenangkan
sebagai sesuatu yang buruk. Sedangkan segala yang menyenangkan adalah baik.
Sebagai bagian dari masyarakat sosial, anak perlu belajar untuk tidak hanya
melarang anak, beri dia pemahaman dan alasan, beri anak teladan yang baik.
Dengan demikian anak akan tumbuh sebagai pribadi yang bertanggung jawab atas
diri dan tindakannya.
Beri ia pujian atas
kemandirian dan tanggung jawab. Pujian orang tua akan menjadi reinforcement
atau faktor penguat bagi anak berbuat baik lagi. Jangan menunda pujian untuk
anak, katakan segera setelah kita melihat usahanya, karena hal itu sangat
berarti baginya. Katakan pujian kita dengan sepenuh hati. Satu hal yang perlu diingat
orang tua adalah tidak hanya menghargai hasil akhir yang baik dari usaha anak,
namun juga harus menghargai proses mental yang telah dilalui anak. Apresiasi
orang tua atas usaha anak akan membuat anak merasa dipahami. Hal ini akan
memacunya untuk berusaha lebih keras lagi.
Memberikan
penjelasan tentang peraturan, tata tertib, maupun norma sosial. Anak
membutuhkan waktu untuk memahami perlunya segala bentuk tata tertib, peraturan
maupun norma yang berlaku di masyarakat.
Jadilah manusia
yang bertanggung jawab. Untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, terlebih dahulu
kita harus berusaha untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, baik pada keluarga,
pekerjaan maupun masyarakat.
FAKTOR PENDUKUNG
KEMANDIRIAN ANAK
Pada dasarnya anak
akan tumbuh mandiri, apabila anak tersebut berada dalam lingkungan yang
orang-orang disekelilingnya mampu menciptakan faktor yang dapat mendukung
mereka untuk tumbuh berkembang dengan normal dan bahagia. Ahli psikolog
perkembangan Elizabeth Hurlock menyebutkan beberapa kondisi penting yang
mendukung kebahagiaan dalam awal masa kanak-kanak. Berdasarkan pernyataan
tersebut dapat penulis simpulkan antara lain:
Kesehatan yang baik
memungkinkan anak menikmati apapun yang ia lakukan dan berhasil dalam
melakukannya.
Lingkungan yang
merangsang dimana akan memperoleh kesempatan untuk menggunakan kemampuannya
semaksimal mungkin.
Mengembangkan
ekspresi-ekspresi kasih sayang yang wajar seperti menunjukkan rasa bangga
terhadap prestasi anak dan meluangkan waktu bersama anak melakukan hal-hal yang
ingin dilakukan.
Harapan yang
realistis sesuai dengan kemampuan anak sehingga anak memperoleh kesempatan yang
wajar.
Mendorong
kreativitas dalam bermain dan menghindari cemooh atau kritik yang tidak perlu
yang dapat mengurangi semangat anak untuk mencoba kreatif.
Diterima oleh
saudara-saudara kandung dan teman-teman bermain sehingga anak dapat
mengembangkan sikap yang baik terhadap berbagai kegiatan sosial. Ini dapat
didorong oleh bimbingan dalam hal bagaimana menyesuaikan dengan orang lain dan
oleh adanya panutan yang baik di rumah untuk ditiru.
Suasana gembira dan
bahagia di rumah sehingga anak akan belajar berusaha untuk mempertahankan
suasana ini. Prestasi dalam kegiatan yang penting bagi anak dan dihargai oleh kelompok
dengan siapa anak mengidentifikasi diri.
Penelitian
Henderson menunjukkan bahwa kemandirian dan prestasi anak akan meningkat
apabila orang tua peduli terhadap anak mereka. Penelitian yang berkaitan dengan
keterlibatan orang tua menghasilkan temuan yang dapat penulis simpulkan sebagai
berikut:
Lingkungan keluarga
adalah lingkungan belajar yang pertama.
Keterlibatan orang
tua dalam pendidikan formal anak akan meningkatkan prestasi sekolah anak.
Keterlibatan orang
tua terhadap pendidikan anak sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan
berkelanjutan.
Berdasarkan
teori-teori di atas dapat kita pahami bahwa khususnya menumbuhkan rasa mandiri
dibutuhkan lingkungan yang kondusif serta keterlibatan orang tua dan pendidik
dalam membimbing. Dengan demikian, anak akan mandiri dan memahami arti
kemandirian sesuai kemampuan dan jiwa anak-anak. Pada saat mereka sudah dewasa
maka orang tua sudah tidak perlu lagi mengajarkan kemandirian dalam arti
sebenarnya, terutama mengenal hal tugas dan tanggung jawabnya terhadap diri
sendiri.
FAKTOR
PENGHAMBAT KEMANDIRIAN ANAK
Anak yang dikatakan
mandiri yaitu anak yang bisa menyelesaikan tugasnya sendiri tanpa bantuan orang
lain, tetapi karena kebutuhannya bayi dan anak-anak yang lebih kecil sangat
tergantung kepada orang lain. Apakah itu orang tua ataupun orang dewasa
lainnya. Namun, sejalan dengan pertambahan usia, anak tersebut akan berkembang
mandiri bila secara mental dan fisik memang sudah siap untuk belajar mandiri.
Oleh karenanya, bila anak yang diharapkan oleh lingkungan sudah berkembang mandiri,
tetapi ternyata masih mempertahankan “tingkah laku bayinya” anak akan menemui
kesulitan dalam mengembangkan dirinya serta mengganggu penyesuaian dengan
lingkungan sosialnya.
Ketidakmandirian
bisa mencakup ketidakmandirian secara fisik maupun mental, misalnya selalu
meminta bantuan orang lain untuk mengurus kebutuhan fisiknya atau dalam
pengambilan keputusankeputusan. Pada balita, salah satu ciri nyata anak tidak
mandiri adalah anak yang tidak bisa ditinggal ibunya, meski dalam waktu
singkat. Ketidakmandirian anak biasanya tidak hanya ditujukan kepada orang dewasa,
tetapi kepada siapa saja yang mau menerimanya, misalnya teman sebaya. Dan
akibatnya perasaan tidak mampu akan membuat anak sangat mudah dipengaruhi oleh
di lingkungannya. Apapun yang dilakukannya seringkali bukan atas keinginannya
sendiri, tetapi lebih dasar keinginan orang lain atau kelompok. Anak tidak
punya kemampuan untuk melepaskan diri dari kelompok, dalam bersikap maupun
bertingkah laku karena mereka memang tidak pernah belajar untuk jadi mandiri.
Menurut Tim
Redaksi, terdapat beberapa hal yang menyebabkan anak tidak mandiri. Adapun
faktor-faktor tersebut sudah penulis simpulkan sebagai berikut:
Bantuan yang
berlebihan; banyak orang tua yang merasa “kasihan” melihat anaknya bersusah payah
melakukan sesuatu sehingga langsung memberikan pertolongan perlakuan yang
menganggap anak tidak bisa apa-apa seperti itu sebenarnya justru memberi
kesempatan pada anak untuk memanipulasi bantuan orang tua. Anak cenderung tidak
mau berusaha di kala mengalami kesulitan.
Rasa bersalah orang
tua; hal ini sering dialami oleh orang tua yang keduanya bekerja atau mereka
yang memiliki anak sakit-sakitan/cacat. Orang tua ingin menutupi rasa bersalah
mereka dengan memenuhi segala keinginan anak.
Terlalu melindungi;
anak yang diperlakukan seperti porselen, cenderung akan tumbuh menjadi anak
yang rapuh. Mereka akan goncang di kala mengalami kesulitan karena selama ini
orang tua selalu memenuhi segala permintaaannya.
Perhatian atau ketidakacuhan
berlebih; banyak anak yang memakai senjata merengek atau menangis karena tahu
orang tuanya surplus perhatian. Itu bisa juga terjadi pada anak yang orang
tuanya bersikap acuh tak acuh. Mereka sengaja malas melakukan segala sesuatunya
sendiri agar mendapat perhatian dari orang tua.
Berpusat pada diri
sendiri; anak yang masih sangat egosentris, memfokuskan segalanya untuk kebutuhan
dirinya sendiri. Mereka begitu mementingkan dirinya sehingga orang harus
menuruti segala kehendaknya.
DOWNLOAD JUGA RPP
KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
