CONTOH PTK PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMA LENGKAP
CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS, CONTOH PTK PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SMA, CONTOH PTK LENGKAP, JELAS, PRAKTIS, SUDAH SELESAI, LANGSUNG DIPRINT, PTK PKn, PTK PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN LENGKAP, PTK SMA, PTK SMP, PTK SD, PTK MA, PTK MTs, PTK MI.
PTK INI DAPAT DIPESAN LENGKAP SEHARGA RP.250.000 KIRIM EMAIL KE duniapendidikan2@gmail.com UNTUK MENDAPATKANNYA.
2.1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan
perubahan tingkah laku. Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat
progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesmpurnaan, misalnya dari tidak
mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek
pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive domain)
maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). (Mulyasa, 2003).
Slameto (1998:2)
mengemukakan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungan.
Selanjutnya UNESCO
dalam Soedijarto (2004 : 10-18) mencanangkan empat pilar belajar. Keempat pilar
belajar tersebut adalah sebagai berikut:
1. Learning to know, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan.
2. Learning to do, adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan controlling, monitoring, maintening, designing, organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi konflik.
3. Learning to live together, adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertia dan tanpa prasangka.
4. Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahua yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya behasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).
2.3.
Hasil
Belajar
Hasil belajar
adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia ingin menerima pengalaman
belajar atau yang optimal yang dapat dicapai dari kegiatan belajar di sekolah
untuk pelajaran. Hasil belajar seperti yang dijelaskan oleh Poerwadarminta
(1993 : 768) adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan). Pengertian hasil belajar
menurut pendapat Mochtar Buchari (1986 : 94) adalah hasil yang dicapai atau
ditonjolkan oleh anak sebagai hasil belajarnya, baik berupa angka atau huruf
serta tindakannya yang mencerminkan hasil belajar yang dicapai masing-masing
anak dalam periode tertentu.
Nasution
(1972:45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan siswa berdasarkan
hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program belajar secara
periodik. Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan
dengan adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi ini mengandung maksud untuk
mengetahui kemajuan belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi yang
diberikan oleh guru.
Dari hasil
evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan
dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu
nilai yang menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam
interaksi aktif sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan
nilai sikap menurut kemampuan anak dalam perubahan baru. Dalam proses belajar
mengajar siswa merupakan masalah utama karena siswa yang diharapkan dapat
menyerap seluruh materi pelajaran yang diprogramkan di dalam kurikulum.
Dengan demikian
hasil belajar merupakan segala sesuatu yang di dapat siswa setelah melalui
proses pembelajaran. Hasil belajar tidak hanya nilai yang tercantum dalam
raport melainkan juga semua yang terlihat pada diri siswa termasuk perubahan
tingkah laku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Siswa yang mengalami perubahan
tingkah laku maka capaianya terhadap pembelajaran adalah baik, sedangkan siswa
yang perilaku tidak berubah maka capaiannya bisa dianggap tidak diamalkan walau
nilai raport tinggi.
2.4.
Pendekatan
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
2.4.1.
Pendekatan
Pembelajaran
Menurut Seels and
Richey (1994 : 32) pendekatan pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi
dan mengurutkan peristiwa atau langkah-langkah dalam sebuah pembelajaran.
Snelbecker (1982 : 115) mengemukakan pendekatan pembelajaran adalah suatu cara
yang dilakukan oleh guru untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran dengan
memahami perbedaan karakteristik dan kemampuan siswa, sehingga diharapkan guru
dapat membantu kesulitan belajar siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa harus diusahakan dalam
rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran, artinya guru harus mampu memahami
bahwa di antara siswa terdapat perbedaan-perbedaan karakteristik. Hal itu
karena siswa berasal dari kondisi ekonomi dan kemampuan orang tua yang berbeda,
sehingga dalam mengikuti proses pembelajaran terdapat perbedaan pula. Dengan memahami
perbedaan karakteristik siswa, dalam proses pembelajaran, oleh guru dapat
menentukan dan memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai, guru dapat
memberikan suatu perlakuan, dan penilaian, serta keputusan yang tepat kepada
siswa, sehingga siswa merasa dirinya dihargai dan diperhatikan dalam proses
pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa
komponen seperti siswa, guru, dan pendekatan, serta materi pembelajaran yang
saling berinteraksi datam mencapai tujuan. Dalam menyajikan materi pembelajaran
guru perlu menentukan dan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pendekatan pembelajaran yang tepat
adalah pendekatan yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.
Menurut
Muhibbin Syah (1995 : 190) pendekatan pembelajaran adalah cara yang di dalam
fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Semakin baik pendekatan
pembelajaran maka semakin efektif pula pencapaian tujuan. Untuk menetapkan
lebih dahulu apakah suatu pendekatan pembelajaran disebut baik, diperlukan
ketentuan yang bersumber dari beberapa faktor. Adapun faktor utama yang menentukan
adalah tujuan yang akan dicapai. Pendekatan pembelajaran di dalam kelas selain
faktor tujuan, juga faktor murid, faktor situasi, dan faktor guru ikut
menentukan efektif tidaknya suatu metode pembelajaran.
Menurut Wasty
Soemanto (1998 : 102) pendekatan pembelajaran merupakan salah satu cara yang
dipergunakan guru dalam mengadakan komunikasi dengan siswa pada saat
berlangsungnya pembelajaran. Oleh karena itu, peranan pendekatan pembelajaran
sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran. Dengan pendekatan
pembelajaran diharapkan terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini
guru harus dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa, serta menggunakan
pendekatan pembelajaran yang bervariasi.
2.4.2.
Pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL)
Contextual
Teaching and Learning (CTL) atau pendekatan
kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari
dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa
untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. (Wina Sanjaya, 2006: 109).
Pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) mempunyai tiga faktor penting dalam rangka
menjalankan pembelajaran dengan baik. Ketiga faktor tersebut adalah:
1. Menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk
menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman
secara langsung. Proses belajar dalam konteks pendekatan kontekstual tidak
mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari
dan menemukan sendiri materi pelajaran.
2. Pendekatan kontekstual mendorong agar siswa dapat
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan
dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja
bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang
dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah
dilupakan.
3.
Pendekatan kontekstual
mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya pendekatan
kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang
dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai
perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks pendekatan
kontekstual bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi
sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
Ketiga faktor
tersebut mempunyai peranan penting dalam melibatkan siswa aktif dan menghadiran
dunia nyata dalam diri siswa selam pembelajaran berlangsung. Selain
faktor-faktor pendukung terlaksanakanya pendekatan kontektual dengan efektif, untuk
mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan pendekatan kontekstual guru setidaknya
melakukan langkah-langkah pembelajaran dengan benar.
2.5.
Kerangka
Berpikir
Pendekatan kontektual
merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menghadirkan dunia nyata pada
siswa. Pendekatan kontektual mengharuskan siswa mengalami sendiri materi yang diajarkan,
kemudian baru memahami dengan benar materi tersebut.
Pendekatan kontektual
diharapkan dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, hal
ini karena akan menjadikan siswa memahami dengan benar keadaan yang sebenarnya
tidak hanya terfokus pada materi di buku ajar dan apa yang disampaikan guru
selama proses belajar mengajar. Selain itu materi Budaya Demokrasi Menuju
Masyarakat Madani memang mengharapkan siswa untuk langsung mengalami sendiri
agar bisa membedakan permasalahan yang terjadi di masyarakat.
2.6.
Hipotesis
Tindakan
Berdasarkan landasan
teori dan kerangka berpikir, maka hipotesis tindakan dirumuskan sebagai
berikut: dengan penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada materi Budaya Demokrasi Menuju Masyarakat Madani dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS Sekolah SMA.
DOWNLOAD CONTOH PTK PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMA LENGKAP
Download juga RPP
Kurikulum 2013 dan Silabus Kurikulum 2013 Fikih Quran Hadits
Sejarah
Bahasa
Indonesia Bahasa Inggris
Bahasa Arab
SKI
Fisika
Kimia
Biologi
Matematika
Sosiologi
Geografi
Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) Ekonomi PKn IPA Terpadu
IPS Terpadu
Seni Budaya
