Benarkah Kurikulum 2013 Penuh Manipulasi?
Benarkah Kurikulum 2013 Penuh Manipulasi - Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang
sudah dicanangkan pemerintah sejak tahun 2006 merupakan salah satu perbaikan
terhadap kurikulum terdahulu. Kurikulum yang sering kali dikenal dengan sebutan
KTSP lebih mengedepankan keaktifan siswa dalam mengeksplorasikan kemampuan
mereka. Kurikulum ini diharapkan mampu membuat siswa bersaing dengan keahlian
yang mereka miliki. Kurikulum ini juga menjadi pembaruan yang sangat signifikan
terhadap kurikulum terdahulu.
Pada pelaksanaannya KTSP mengutamakan
nilai-nilai karakter bangsa yang terdiri dari jujur, toleransi, mandiri, demokratis, komunikatif, tanggung jawab, percaya diri, berorientasi
tugas dan hasil dan lain-lain. Sebenarnya nilai-nilai karakter yang diharapkan dalam
KTSP ini sudah terpatri dengan sendirinya dalam pendidikan moral. Siswa sudah
memahami pentingnya penananam nilai karakter tersebut, dalam pelaksanaan
Pendidikan Kewarganegaraan bahkan pendidikan agama nilai-nilai karakter sudah
bukan barang baru. Tidak ada yang salah dalam hal penanaman nilai-nilai
karakter dalam KTSP seperti yang dimaui pemerintah, semua berdasar dan benar
adanya. Permasalahan yang muncul kemudian adalah penerapan di lapangan yang
diabaikan oleh sebagian guru. Nilai-nilai karakter bangsa ini hanya tertera
dengan manis di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Dalam RPP di
kurikulum ini terdapat tiga poin penting dalam melaksanakan pembelajaran. Ketiga
poin ini harus benar-benar dipahami guru sebelum menerapkan RPP di kelas. Ketiga
poin tersebut adalah konfirmasi diartikan sebagai penegasan, pengesahan, pembenaran. Kemudian elaborasi diartikan sebagai penggarapan
secara tekun dan cermat. Dan eksplorasi
diartikan penjajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak
(terkait keadaan), terutama sumber-sumber alam yang terdapat dari tempat itu.
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Online
versi Android).
RPP merupakan landasan
penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Ketiga poin di atas harus benar-benar
tercantum dalam RPP, sehingga akan terbentuk proses pembelajaran seperti yang
diharapkan sesuai KTSP. Penyusunan RPP yang benar dan sesuai anjuran KTSP akan
mencerminkan terlaksanannya kurikulum tersebut. Setiap guru berhak menyusun RPP
sesuai keadaan dan kondisi sekolah, karena lagi-lagi KTSP mengedanpan situasi
sekolah tertentu. Setiap sekolah akan berbeda guru dan kultur maka RPP yang
disusun pun akan mengacu pada kemampuan siswa. RPP sekolah unggulan yang punya
fasilitas memadai akan jauh berbeda dengan RPP sekolah pelosok. Di sinilah
letak keunggulan KTSP, walau pada pelaksanaannya masih belum terlaksana dengan
benar. Banyak faktor yang mendukung KTSP tidak diterapkan guru, salah satunya
informasi tidak tersampaikan dengan terstruktur dan hanya kalangan tertentu
saja yang mampu menerapkan KTSP ini.
Apakah KTSP
benar-benar diterapkan di semua sekolah?
Problema
KTSP
Kurikulum ini sudah
sangat lama dilaksanakan, kondisi ini benar untuk sebagian daerah. Masalah yang
muncul dalam pelaksanaan kurikulum ini adalah kurangnya sosialisasi sehingga
tidak semua guru paham maksud KTSP. KTSP yang diharapkan terlaksana dengan benar
dan sesuai prosedur terbengkalai karena pemerintah abai dalam hal melatih guru
memahami perkara ini.
KTSP yang sudah
mengakar terus menjadi kertas tertulis dalam RPP guru. Guru yang tidak pernah
mengikuti pelatihan dan pedalaman materi akan KTSP tidak pernah tahu menahu mau
dari kurikulum ini. Semua peraturan yang terpatri dalam KTSP hanya sebatas tahu
bahwa ada perubahan kurikulum. Guru-guru di kota besar dengan mudah memahami
karena selain pelatihan yang diikuti juga media pembelajaran yang lengkap. Guru-guru
di daerah terpencil masih terfokus pada pembelajaran manual tanpa pernah
mengetahui pentingnya KTSP. Hal ini terjadi karena pemerintah lupa bahwa di
daerah terpencil masih terdapat guru yang butuh pedalaman materi akan KTSP.
Tidak ada yang salah
dengan KTSP yang dijalankan pemerintah untuk memajukan pendidikan Indonesia. Kesalahan
terjadi pada pelaksanaan dan sosialisasi ke semua guru yang tidak merata
sehingga KTSP tidak dipahami dengan benar, imbasnya pelaksanaan pembelajaran
masih tidak ada perubahan dan cenderung sama dengan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK).
Kedatangan
Kurikulum 2013
Di saat pelaksanaan
KTSP yang belum menyeluruh, pemerintah kembali menggalak kurikulum baru yaitu,
Kurikulum 2013. Dalam hal ini lagi-lagi pemerintah tidak disalahkan karena
tujuannya benar. Kesalahan akan terulang jika Kurikulum 2013 tidak
disosialisasikan dengan benar oleh pihak terkait. Pemerintah bisa beralasan
mutu pendidikan rendah karena berbagai sebab, namun jika sebagian guru tidak
paham akan kurikulum baru ini pemerintah patut disalahkan karena mutu
pendidikan bukan hanya terletak pada guru namun juga pada semua fasilitas yang
belum mampu pemerintah berikan ke semua sekolah. Pemerintah seakan hanya
melihat pendidikan di kota besar saja, sedangkan pendidikan di daerah terpencil
hanya dipandang sebelah mata. Kasus yang sering terjadi adalah minimnya guru
berkompetensi di sekolah terpencil sehingga pendidikan tidak berlangsung
maksimal. Guru-guru yang berkompetensi tinggi bahkan bersemak di kota besar!
Kurikulum 2013 tak
ubah dari KTSP. Sama-sama mengharapkan pembelajaran aktif dan bernilai
karakter. Pada Kurikulum 2013 terdapat tiga penilaian, yaitu sikap, pengetahuan
dan keterampilan. Hal ini mengacu pada RPP yang disusun guru. Ranah sikap
terdapat pada Kompetensi Inti diikuti dengan Kompetensi Dasar 1 dan 2 yang
terletak di bagian atas RPP setelah indentitas sekolah. Ranah pengetahuan
terletak pada Kompetensi Dasar 3 dan ranah keterampilan terletak pada Kompetensi
Dasar 4. Ketiga penilaian ini harus tertulis dengan jelas dalam RPP yang
disusun guru.
Penekanan Kurikulum
2013 lebih kepada lima aspek penting. Kelima aspek ini harus tercantum dalam
RPP seorang guru seperti tidak aspek pada RPP KTSP. Kelima aspek yang terdapat
dalam Kurikulum 2013 adalah mengamati, menanya, mencoba, menalar dan komunikasi.
Kelima aspek ini lebih terperinci dan mudah dipahami guru sehingga pelaksanaan
pembelajaran pun semakin mengedepankan keaktifan siswa.
Kurikulum 2013 yang
dicanangkan pemerintah dengan matang masih dalam tahap penyelesaian yang entah
kapan. Harapan yang muncul adalah, selama peningkatan kualitas kurikulum
tersebut pemerintah pun harus meningkatkan kualitas guru untuk mengetahui
pelaksanaan kurikulum ini. Jika pengalaman di KTSP yang hanya tinggal nama
sedangkan implementasinya tidak diketahui dengan benar oleh guru, maka untuk
Kurikulum 2013 guru harus dilatih dengan benar tanpa pandang bulu. Pemerintah
berhak memberikan pelatihan kepada semua guru, bukan hanya guru di kota besar
saja melainkan guru-guru di pedalaman pun harus tersentuh dengan mau kurikulum
ini.
Jika tidak,
Kurikulum 2013 tetap akan menjadi pemanis dalam peningkatan mutu pendidikan.
Kita tunggu saja, gebrakan apa yang dilakukan pemerintah dalam membuang bingung
guru antara KTSP dengan Kurikulum 2013!
***
